Ada apa dengan Kurikulum baru 2022 ?

Sekilas

Kurikulum yang diluncurkan kemendikbud (kita sebut saja kur2022) BUKANLAH penggantian kurikulum, namun kurikulum baru ini merupakan lanjutan pengembangan kur13.  Kurikulum prototipe melanjutkan arah pengembangan kurikulum sebelumnya:

 1. Orientasi holistik: kurikulum dirancang untuk mengembangkan murid secara holistik, mencakup kecakapan akademis dan non-akademis, kompetensi kognitif, sosial, emosional, dan spiritual.

2. Berbasis kompetensi, bukan konten: kurikulum dirancang berdasarkan kompetensi yang ingin dikembangkan, bukan berdasarkan konten atau materi tertentu.

3. Kontekstualisasi dan personalisasi: kurikulum dirancang sesuai konteks (budaya, misi sekolah, lingkungan lokal) dan kebutuhan murid.

Kurikulum ini dibuat untuk mendukung pemulihan pembelajaran akibat Pandemi covid 19. Dan nantinya akan di evaluasi kembali pada tahun 2024 tentang penentuan kurikulum nasional.


Dapat dilihat dari gambar diatas, bahwa kurikulum Prototipe adalah sebuah opsi untuk pemulihan pembelajaran tahun 2022-2024.

Kurikulum prototipe memiliki 3 karakteristik utama yang mendukung pemulihan pembelajaran:

1 Pembelajaran berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter (iman, taqwa, dan akhlak mulia; gotong royong; kebinekaan global; kemandirian; nalar kritis; kreativitas).

Porsi khusus 20-30%, jam pelajaran akan digunakan untuk pengembangan karakter melalui pembelajaran berbasis projek.

Pembelajaran Berbasis Projek, dipandang penting karena:

a) memberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman (experiential learning)

b) Mengintegrasikan kompetensi esensial yang dipelajari peserta didik dari berbagai disiplin ilmu

c) struktur belajar yang fleksibel experiensial learning (setahun minimal 2 kali)

2.       Fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.

Penguatan kompetensi yang mendasar dan pemahaman holistik:

• Untuk memahami lingkungan sekitar, mata pelajaran IPA dan IPS digabungkan sebagai mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)

• Integrasi computational thinking dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPAS

• Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran pilihan Pembelajaran berbasis projek untuk penguatan profil Pelajar Pancasila dilakukan minimal 2 kali dalam satu tahun ajaran

3. Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan murid (teach at the right level) dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal

Kurikulum prototipe menetapkan tujuan belajar per fase (2-3 tahun) untuk memberi fleksibilitas bagi guru dan sekolah, menetapkan jam pelajaran per tahun agar sekolah dapat berinovasi dalam menyusun kurikulum dan pembelajarannya.

Catatan tambahan:

Kurikulum baru ini akan ditawarkan sebagai opsi. Sama seperti kurikulum khusus (kurikulum darurat) tahun 2021. Jadi tahun 2022 ditawarkan kurikulum baru (prototipe) sebagai salah opsi tambahan bagi sekolah yang percaya dan merasa sudah siap menerapkan. Bukan paksaan, sehingga diharapkan tumbuh secara organic.

Hal ini akan melahirkan tantangan:

  • Terdapat kurikulum yang berbeda yang diterapkan dalam pembelajaran, yaitu Kur13, kur darurat covid dan kurikulum 2022.
  • Kurikulum yang berbeda beda ini harus disatukan oleh standar kompetensi yang sama sesuai amanat UU Sisdiknas no 20 tahun 2003
  • Adanya kurikulum yang berbeda yang berlaku semua (Kur13, Kur darurat dan kurikulum 2022) dapat membahayakan sistem pendidikan nasional karena bisa memperlebar disparitas pendidikan baik jawa-luar jawa maupun antar sekolah.

Bagaimana Kurikulum 2022 Diterapkan?

Seperti sudah diketahui, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) menawarkan kurikulum baru pada tahun 2022 yang santer disebut sebagai Kurikulum Paradigma Baru. Kurikulum pengganti Kurikulum 2013 (K-13) yang tengah diujicobakan di 2.500 sekolah penggerak ini diklaim lebih fokus pada materi yang esensial dan tidak terlalu padat materi sehingga guru memiliki waktu untuk pengembangan karakter dan kompetensi. Dikutip dari laman Kemendikbud, Kurikulum Paradigma Baru memiliki struktur kurikulum di antaranya Profil Pelajar Pancasila (PPP) yang akan mendasari Standar Isi Pendidikan, Standar Proses Pendidikan, dan Standar Penilaian Pendidikan.

Ini akan menjadi acuan dalam menetapkan Struktur Kurikulum, Capaian Pembelajaran (CP), Prinsip Pembelajaran, dan Assesmen. Struktur Kurikulum yang ditetapkan pemerintah ini masih dalam bentuk minimum sehingga untuk kurikulum operasionalnya, sekolah menetapkan dan mengembangkannya sendiri sesuai dengan visi misi dan sumber daya yang tersedia. Ada dua bagian penting dalam Kurikulum Paradigma Baru yakni kegiatan intrakurikuler berupa tatap muka dalam kelas dan kegiatan proyek yang dilakukan untuk mencapai Profil Pelajar Pancasila. 20- 30 % dari jam pelajaran yang tersedia pada Kurikulum Paradigma Baru dialokasikan untuk kegiatan proyek. Kurikulum Paradigma Baru juga tidak menetapkan jam pelajaran perminggu seperti yang selama ini berlaku di K-13.

Jam Pelajaran pada Kurikulum Paradigma Baru ditetapkan pertahun.   Baca juga: Pemerintah Tawarkan Kurikulum Baru Tahun 2022 Dengan pembagian jam ini, satuan pendidikan diberi keleluasaan dalam mengatur waktu pelaksanaan pelajaran. Bisa saja, satu mata pelajaran tidak diajarkan pada satu semester, tetapi diajarkan pada semester berikutnya atau sebaliknya. Dibenarkan semisal, mata pelajaran IPA di kelas VII diajarkan pada semester ganjil dan tidak diajarkan lagi pada semester genap, selama jam pelajaran pertahunnya dipenuhi. Dalam Kurikulum Paradigma Baru, mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Sosial pada Sekolah Dasar Kelas tinggi (IV, V, VI) diajarkan secara bersamaan dengan nama Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sosial (IPAS).

Hal ini ini ditujukan untuk membekali peserta didik sebelum mengikuti pelajaran IPA dan IPS secara terpisah pada jenjang SMP nantinya. Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) yang pada K-13 sempat dihilangkan, pada Kurikulum Paradigma Baru dimuat kembali. Pelajaran yang akan diajarkan pada jenjang SMP, SMA/SMK ini boleh diajarkan oleh guru yang tidak berlatar belakang TIK dengan memenuhi persyaratan tertentu. Akan ada buku panduan guru sebagai acuan guru pemula di bidang TIK untuk mengajarkan kepada siswa. Dalam pelaksanaan proses pembelajaran, satuan pendidikan tidak terbatas pada satu pendekatan saja seperti K-13 yang hanya menggunakan pendekatan saintifik.

Satuan pendidikan dapat menggunakan pendekatan berbasis mata pelajaran, tematik, inkuiri, kolaborasi mata pelajaran ataupun paduannya sesuai dengan peraturan menteri.   Terdapat pula penggunaan istilah-istilah baru dalam Kurikulum Paradigma Baru seperti Capaian Pembelajaran (CP) untuk menggantikan istilah Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) pada K-13. Dalam implementasi kurikulum ini, pemerintah akan menyediakan buku guru, modul ajar, ragam asesmen formatif, dan contoh pengembangan kurikulum satuan pendidikan untuk membantu dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.   Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan Kemendikbud Ristek, Anindito Aditomo menyebut bahwa kurikulum ini dievaluasi oleh aktor paling penting dalam perbaikan kualitas pembelajaran yakni para guru. Para guru mengevaluasi dalam konteks nyata.

Langkah ini melengkapi model uji publik yang biasanya didominasi oleh akademisi dan pengamat yang hanya melihat dokumen kurikulum saja.   “Paradigma merdeka belajar, sekolah perlu diberi keleluasaan termasuk dalam memilih kurikulum yang paling relevan, paling cocok bagi kebutuhan dan konteks sekolah masing-masing,” katanya,

Sumber: classroom.web.id


Powered by Blogger.