Aku Cinta Membaca (Halaman 130, 132, 133, 135, 137)

Aku Cinta Membaca 

Cintailah Membaca, karena ....

semakin banyak membaca, semakin banyak tempat yang kamu kunjungi,
semakin sering membaca, semakin sering kamu pergi bertualang,
semakin beragam bacaanmu, semakin beragam pula pengalamanmu.
Apa yang kamu baca akan membuatmu kaya, karena bacaanmu akan menambah ilmu untukmu, mengisi jiwamu dengan pengetahuan, dan membuka wawasanmu seluas-luasnya!



---

1. Bacalah cerita rakyat dari Riau yang berjudul “Burung Tempua dan Burung Puyuh”.

Kemudian, isilah ulasan ceritanya di format yang telah disediakan!

Burung Tempua dan Burung Puyuh Riau 

Burung Tempua dan Burung Puyuh adalah sepasang sahabat. Selama ini, mereka selalu hidup rukun. Namun, suatu saat, mereka sedikit berselisih. Masing-masing menyatakan memiliki sarang yang paling bagus dan nyaman. ”Tentu saja sarangku yang lebih hebat. Aku membuatnya selama bermingguminggu dengan cara menjalin rumput kering dan alang-alang. Sarangku amat kuat!” Tempua memulai pembicaraan. 

Puyuh tergelak. “Untuk apa menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk membuat sarang? Lihatlah sarangku. Aku bahkan tak perlu membuatnya.” Puyuh menunjukan sarangnya, pohon tumbang yang dijadikan Puyuh sebagai tempat berlindung. 

Tempua mencibir. ”Itu bukan sarang. Lagi pula, jika hanya seperti itu, musuh mudah menangkapmu.” 

Puyuh menggeleng. “Tidak, mereka tak tahu keberadaanku. Aku akan sering berpindah serang.” 

Tempua terdiam sejenak. Dia merasa bahwa sarangnya masih jauh lebih baik daripada sarang Puyuh.

Untuk membuktikannya, dia mengajak Puyuh menginap di sarangnya. Dia yakin, Puyuh akan mengakui bahwa sarangnya jauh lebih baik. Puyuh setuju dan mengikuti Tempua pulang. Saat menuju ke sarang Tempua, Puyuh cukup kelelahan. Maklum saja, selama ini, dia tak perlu terbang tinggi untuk kembali ke sarangnya sendiri. Tak lama kemudian, mereka berdua tidur. Namun, Puyuh gelisah, dia kehausan. Dia lalu membangunkan Tempua untuk meminta minum. Namun, Tempua tak punya air. 

Puyuh tak mungkin terbang keluar untuk mencari air. Suasana di luar gelap gulita, lagi pula sarang itu tinggi sekali. Akhirnya, Puyuh tidur sambil menahan haus. Beberapa saat kemudian, ada angin kencang bertiup. Pohon tempat sarang Tempua bergoyang-goyang hebat. Puyuh ketakutan. ”Tenang saja. Sarangku kuat, kita tak mungkin jatuh,” hibur Tempua. Tempua benar. Tak lama kemudian, angin berhenti bertiup. Mereka berdua masih aman di dalam sarang. Namun, Puyuh masih ketakutan. Malam itu, dia tak bisa tidur nyenyak. Keesokan harinya Puyuh berpamitan pada Tempua. Dia tak mau tinggal di sarang Tempua lagi. Lalu, Puyuh menawarkan pada Tempua, ”Bagaimana kalau kau juga mencoba tidur di sarangku?” Tempua pun setuju. 

Hari sudah malam saat Puyuh dan Tempua menemukan pohon tumbang di dekat sungai. ”Pohon ini amat cocok bagi kita,” seru Puyuh senang. Tempua bingung. ”Kita mau tidur di mana?” Puyuh menunjuk kolong pohon itu. Meski merasa enggan, Tempua pun menuruti ajakan Puyuh. 

Tengah malam, hujan turun deras. Tempua kedinginan. ”Tak apa-apa, sebentar lagi hujan reda,” hibur Puyuh. Tempua berusaha tidur meski menggigil, dia tak berkata apa-apa lagi. Keesokan harinya, Tempua mengeluh pada Puyuh. Badannya demam. ”Aku tak cocok tinggal di sarangmu,” keluhnya. Akhirnya, baik Tempua maupun Puyuh menyadari bahwa mereka tak bisa memaksakan pendapat mereka tentang kehebatan sarangnya. Mereka pun tak jadi berselisih 

Sumber: Buku Tematik Kelas 6 Tema 8


---

2. Baca dan cermati bacaan yang berjudul “Cindelaras”. Identifikasikan tokoh dan penokohan dari cerita tersebut. Sajikan gagasan utama dari setiap paragraf dalam bentuk peta konsep.


Cindelaras 
Jawa Tengah 

Cindelaras adalah seorang pemuda yang tinggal bersama ibunya di sebuah hutan terpencil. Jika melihat perawakannya yang gagah dan parasnya yang tampan, rasanya tak pantas dia tinggal di hutan. Dia lebih cocok tinggal di istana. Sebenarnya, Cindelaras memang seorang pangeran. Ayahnya adalah Raden Putra, Raja Kerajaan Jenggala. Namun, ibu Cindelaras merahasiakan hal ini kepada putranya. Meski tinggal di hutan, Cindelaras tak kesepian. Dia bersahabat dengan semua binatang yang ada. 

Suatu hari, seekor burung rajawali menghadiahinya sebutir telur ayam. Cindelaras amat senang dan menghangatkan telur itu supaya bisa menetas dengan baik. Selang beberapa minggu, telur itu pun menetas. Dengan sabar, Cindelaras memelihara anak ayamnya. Dia tak pernah lupa memberi makan dan memandikannya. Sekarang, anak ayam itu telah menjadi ayam jantan yang besar dan kuat. Namun, ada yang aneh pada ayam itu. Saat berkokok, ayam itu mengeluarkan suara, ”kukuruyukk... Tuanku Cindelaras, wajahnya tampan rupawan, rumahnya di hutan rimba, ayahnya Raden Putra.” Rupanya ayam jantan ini adalah ayam jantan ajaib! Karena penasaran, Cindelaras bertanya pada ibunya, ”Benarkah Raden Putra adalah ayahku?” Ibunya akhirnya menceritakan kejadian bertahun-tahun yang lalu. Raden Putra mengusir ibu Cindelaras dari istana karena dituduh telah meracuni adik Raden Putra. Saat itu, Raden Putra tak tahu bahwa ibu Cindelaras sedang mengandung. Mendengar cerita ibunya, Cindelaras bertekad untuk menemui Raden Putra. 

Setelah menempuh perjalanan jauh, Cindelaras akhirnya sampai di Kerajaan Jenggala. ”Aku ingin mengadu ayamku dengan ayam Raden Putra,” kata Cindelaras pada para pengawal. Raden Putra pun menemui Cindelaras. Saat melihat Cindelaras, Raden Putra terkesiap. Beliau merasa mengenal wajah itu. ”Siapa kau? Berani sekali menantang ayamku. Apa yang akan kau berikan padaku jika ayammu kalah?” tantang Raden Putra. Cindelaras menunduk hormat, “Hamba akan mengabdikan seluruh hidup hamba pada Kerajaan Jenggala.” Raden Putra setuju. Cindelaras pun mengeluarkan si ayam jantan dari keranjang yang dijinjingnya. Begitu keluar, ayam Cindelaras langsung berkokok seperti biasanya. ”Kukuruyukk...tuanku Cindelaras, wajahnya tampan rupawan, rumahnya di hutan rimba, ayahnya Raden Putra.” semua yang ada di situ terkejut. Wajah Raden Putra memucat. “Siapakah dirimu sebenarnya? Mengapa ayam ini berkata bahwa kau adalah putraku?” Cindelaras pun menjelaskan siapa dirinya dan Raden putra terduduk mendengarnya. “Astaga, aku telah menyia-nyiakan anakku sendiri!” sesalnya.

Raden Putra memandang Cindelaras.” Anakku, maukah kau memaafkan kesalahan ayahmu ini?” Cindelaras mengangguk mantap. Raden Putra lega dan beliau memerintahkan para pengawal untuk menjemput ibu Cindelaras di hutan. Sebenarnya, setelah mengusir ibu Cindelaras, Raden Putra menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan. Namun, dia tidak dapat menemukan istrinya. Ibu Cindelaras seperti lenyap di telan bumi. Sekarang, berkat ayam jantan Cindelaras, mereka semua dapat berkumpul kembali dan hidup bahagia. 

Sumber: Cerita Asli Nusantara, Elex Media Computindo



---

3. Baca dan cermati bacaan yang berjudul “Raja Mintin”. Identifikasikan tokoh dan penokohan dari cerita tersebut dan buatlah ulasan ceritanya. Sajikan kembali cerita tersebut dalam bentuk format ulasan cerita. 

Raja Mintin 

Kalimantan Tengah 

Raja Kerajaan Mintin terus-menerus dirundung duka setelah meninggalnya permaisuri. Ia teramat sedih sehingga urusan kerajaan menjadi terbengkalai. “Kasihan rakyatku kalau aku begini terus,” ujar Raja Mintin tersadar. Ia lalu memutuskan untuk pergi berlayar ke negeri seberang untuk sementara waktu menenangkan diri. Dipanggilnya kedua putranya, si Naga dan si Buaya. Kepada mereka, Raja Mintin menitipkan tugas-tugasnya sebagai raja. Ia percaya dua putranya yang sudah dewasa akan mampu mengurus kerajaan dengan baik. 

Di hari pertama memerintah, si Buaya langsung mempelajari masalahmasalah kerajaan. Sementara itu, si Naga bersikap acuh-tak acuh. Ia malah menggunakan uang kerajaan untuk kesenangan pribadi. Si Buaya menjadi geram melihat tingkah laku saudaranya. ”Hei, Naga! Apa yang kau lakukan pada uang istana? Kalau Ayah tahu, dia akan menghukummu,” hardik si Buaya pada si Naga. 

“Sudahlah, urus saja urusanmu sendiri. Aku berhak atas uang kerajaan ini!” kata si Naga. Mereka pun saling bertengkar. Bukannya mengurusi kerajaan dan rakyat, mereka berdua malah sibuk saling menjelekkan. Adu mulut berubah menjadi perkelahian. Mereka juga mulai menghasut sebanyak mungkin orang dan mengumpulkan pengikut masing-masing. 

“Si Naga menyalahi amanat raja! Ia menggunakan harta istana untuk berfoya-foya,” hasut si Buaya.

“Si Buaya mau merebut kekuasaan! Ia ingin menguasai kerajaan sendiri!” hasut si Naga. 

Rakyat negeri Mintin pun terpecah menjadi dua. Sebagian membela si Buaya, dan sebagian lainnya mendukung si Naga. Dua kubu itu saling berkelahi di mana-mana. Terjadilah perang saudara. Negeri Mintin dilanda kerusuhan. Banyak korban berjatuhan. 

Sementara itu, di kapal yang membawanya ke negeri seberang, Raja Mintin merasakan firasat buruk. Belum setengah perjalanan, Raja Mintin memerintahkan awak kapal untuk berputar haluan. Kapal pun berbalik kembali ke Negeri Mintin. Alangkah terkejutnya Raja Mintin ketika sampai di negerinya. Ia melihat kerajaannya porak-poranda. Di panggilnya kedua putranya untuk menghadap.

“Kalian berdua telah menyia-nyiakan kepercayaanku!” ujar Raja Mintin marah kepada si Buaya dan si Naga. 

“Maaf, ayahanda. Buaya-lah yang memulai peperangan ini!” kata si Naga membela diri. 

“Tidak, Ayah! Naga-lah yang menghambur-hamburkan uang kerajaan!” kata si Buaya tak mau kalah. 

Raja Mintin semakin geram, ”Jangan saling membela diri di hadapanku. Tak sadarkah kalian berdua telah menyengsarakan rakyat negeri ini?” Meskipun kedua putranya telah meminta maaf, Raja Mintin tetap menjatuhkan hukuman atas kesalahan mereka. Si Naga dan si Buaya diusir dari Kerajaan Mintin untuk selama-lamanya. 

Sumber: Cerita Asli Nusantara, Elex Media Computindo 

 
---

Tulislah 6 aksi yang akan kamu lakukan untuk menjaga lingkungan sekolah dan lingkungan tempat tinggalmu!

 

---

5. Bacalah  cerita yang berjudul “Kisah Rusa Muda dan Serigala”. Kemudian, isilah ulasan ceritanya di format yang telah disediakan! 

Kisah Rusa Muda dan Serigala


Pada suatu hari, kawanan rusa terlihat merumput di padang yang luas dan subur. Dipadang itu, terdapat aliran sungai yang airnya segar dan tidak pernah habis walaupun musim kemarau. Beberapa hewan pemakan tumbuhan lainnya seperti kerbau, zebra, gajah, serta hewan lainnya berkumpul di padang rumput yang subur tersebut. 

Kawanan rusa selalu mengamati tempat mereka dari ancaman kawanan serigala. Setiap kali kawanan rusa merumput, salah satu anggota dari kawanan rusa tersebut mengamati keadaan sekitar. Rusa penjaga akan terus memperhatikan setiap suara dan gerak-gerik yang mencurigakan. Rusa selalu bersiap untuk lari ketika kawanan serigala datang mengancam. 

Pada suatu hari, di kala mentari bersinar, gumpalan awan tipis menghiasi langit biru. Sejuknya tiupan angin membuat suasana di padang rumput itu sangat menyenangkan. Kawanan rusa dan binatang lain sedang memakan rumput dengan tenang. Lalu salah satu rusa muda mendapatkan tugas pertamanya mengawasi keadaan padang rumput tersebut. Rusa ini memiliki badan yang besar, lincah serta kuat, tetapi dia hanya memiliki satu tanduk karena satu tanduknya patah ketika dia diserang seekor serigala. Ketika itu, tanduknya membentur batu hingga patah. Namun, hal tersebut merupakan kecerobohannya sendiri karena ketika tanda bahaya datang dari rusa yang lain, dia menghiraukannya dan terus makan rumput dengan rakusnya hingga dia lupa dengan bahaya yang mengancam. 

Ketika rusa muda itu mulai melaksanakan tugasnya, dia menegakkan badannya, melihat keadaan sekelilingnya. Matanya yang tajam mampu melihat suatu yang jauh bersembunyi pada semak-semak; telinganya mampu mendengar suara yang terdengar asing dari jarak yang cukup jauh, dan kakinya yang kuat dan lincah mampu melepaskan diri dari para serigala. Awalnya, rusa itu patuh pada tugasnya. Namun, rusa itu mulai berpikir bahwa hal ini adalah kegiatan yang sangat membosankan, menjaga kawanan rusa dari kawanan serigala. Dia berpikir jika dia terus menjaga kawanannya dari bahaya, kapan dia akan mulai makan rumput yang hijau ini, padahal rusa itu mulai merasakan lapar. 

Rusa itu berpikir untuk segera menyantap rumput hijau yang sangat menggiurkan. Namun, dia memiliki tugas yang tidak bisa dia tinggalkan. Akhirnya, rasa lapar membuatnya lupa akan tugasnya. Rusa muda itu segera meninggalkan tugasnya dan makan dengan rakus, dia tidak henti-hentinya memakan rumput itu. Rasa lapar membuatmya lupa diri dengan tugasnya yang sangat penting. 

Setelah beberapa saat rusa muda meninggalkan tugasnya, terdengar suara gemuruh para kawanan rusa dan para binatang lainnya berlarian dengan sangat kencang mereka mengeluarkan suara-suara peringatan bahwa kawanan serigala menyerang. Saat itu pula, rusa muda yang sedang menikmati rumput hijau itu kaget dan merasa ketakutan. Matanya melihat ke sana kemari untuk melihat dari mana datangnya kawanan serigala itu. Namun, dia terlambat menyadari. Ternyata, kawanan serigala itu tepat berada di belakangnya dan bersiap untuk segera menerkam dirinya. Segera rusa muda itu meloncat dan berlari untuk meloloskan diri dari kawanan serigala. Namun, kawanan serigala telah mengepungnya hingga rusa muda itu tidak mampu lagi meloloskan diri dari kawanan serigala tersebut. 

Dia sangat menyesal dengan perbuatannya, meninggalkan tugas mengawasi keadaan padang rumput hingga akhirnya dia mendapatkan akibat yang begitu buruk untuknya. Di saat itu, rusa muda itu berpikir bahwa jika dia mendapatkan tugas apa pun, akan dia lakukan de ngan sepenuh hati, dan selalu patuh pada tugas tersebut. Akan tetapi kesalahan itu tidak dapat diperbaiki karena saat itu pula para serigala telah menerkamnya. 




---

6. Cermati infografis tentang masalah sampah! Buatlah reklame dalam bentuk brosur yang memberikan himbauan bagi masyarakat untuk menjaga lingkungan dari bahaya sampah. 



Powered by Blogger.